Minggu, 07 Juni 2015

makalah psikologi tentang prestasi dan evaluasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tantanga dan perkembangan pendidikan di Indonesia pada masa yang akan datang semakin besar dan kompleks. Hal ini disebabkan anatara lain adanya perubahan tuntutan masyarakat terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan itu sendiri. Tuntutan itu sangatlah wajar dan logis serta bukan termaksuk isu yang baru,karena sudah lebih dari 30 tahun yang lalu,komisi pembaharuan pendidikan nasional telah melaporkan isu-isu pendidikan nasional yang harus diantisipasi.salah satunya adalah kualitas dan kuantitas pendidikan.
 Suatu bangsa akan dikenal karena kemajuan ilmu pengetahuannya, suatu bangsa akan dianggap maju jika mencapai kemajuan dengan ilmu pengetahuan. Dan ilmu pengetahuan itu tidak lepas dari yang namanya pendidikan, baik itu formal atau non formal.Pendidikan memang memiliki peran penting bagi tercapainya kemajuan. Selain itu proses pendidikan bukan hanya berhubungan dengan proses pencapaian ilmu pengetahuan, tetapi juga kematangan masyarakatnya secara psikis. Dan itu semua tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendudukung dari pendidikan tersebut. Baik itu dari faktor pendidik, yang dididik ataupun administrasi dari pendidikan tersebut, dan masih banyak lagi faktor-faktor yang mendudung bagi terselengaranya sebuah pendidikan.
Evaluasi belajar dan pembelajaran sangatlah penting utamanya di dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan evaluasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pencapaian peserta didik dalam menempuh mata pelajaran yang telah disajikan. Sehingga untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai, apakah aktivitas yang dilakukan telah berhasil mencapai sasaran, apakah prosedur kerja yang dilakukan sudah tepat, apakah sumber daya yang dimiliki sudah dapat dimobilisasi secara optimal untuk mencapai tujuan, dan apakah elemen-elemen pendukung kegiatan sudah berfungsi dengan baik, digunakan suatu evaluasi untuk semua hal tersebut. Peran evaluasi merupakan hal yang sangat penting dan keberadaannya tidak dapat tergantikan. Dengan adanya evaluasi seorang pengajar akan mampu melihat perkembangan dari setiap peserta didiknya dan dapat melakukan tindakan lebih lanjut manakala peserta didiknya mengalami kemunduran dalam pencapaian hasil belajar atau peserta didik belum mampu mencapai prestasi yang optimal.



1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, Kami merumuskan beberapa masalah yaitu sebagai berikut:
1.           Apa pengertian prestasi belajar ?
2.           Apa pengertian evaluasi ?
3.           Apakah pengertian Evaluasi Prestasi Belajar ?
4.           Apa tujuan dan fungsi Evaluasi Pembelajaran ?
5.           Apa itu evaluasi prestasi kognitif, afektif, dan psikomotor ?
6.           Apa pengertian prestasi menurut pandangan islam ?

1.3   Tujuan Penulisan
Mengacu pada rumusan masalah, maka ada beberapa tujuan penulisan makalah ini, yaitu untuk:
1.           Mengetahui pengertian dari prestasi belajar
2.           Mengetahui pengertian dari evaluasi
3.           Mengetahui pengertian dari evaluasi prestasi belajar
4.           Memahami tujuan dan fungsi Evaluasi pembelajaran
5.           Mengetahui pengertian dari evaluasi prestasi kognitif, afektif, dan psikomotor
6.           Mengetahui pengertian prestasi menurut pandangan islam


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer (Adi Satrio, 2005: 467) didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai. Noehi Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwa belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal.
Sementara itu Muhibbin Syah (2008: 90-91) mengutip pendapat beberapa pakar psikologi tentang definisi belajar, di antaranya adalah:
Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya educational Psychology: The Teaching-Learning Process,berpendapat bahwa belajar adalah suau proses adaptasi atau penyesuaian tinkah laku yang berlangsung secara progresif (a process of progressive behavior adaptation). Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce).
Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organism (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut.Jadi, dalam pandangan Hitzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
Wittig dalam bukunya, Psychology of Learning, Wittig mendefinisikan belajar ialah perubahan yang relative menetap terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Reber dalam kamusnya, Dictionary of Psychology, membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama,belajar adalah The process of accuiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kuran representatif karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif.Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practise, yakni suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif permanen sebagai hasil latihan yang diperkuat.


Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar, yakni:
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling pelaku belajar. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi pelaku belajar.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.


2.2 Pengertian Evaluasi
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalah menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessnment ada pula kata lain yang searti dan relatif lebih masyhur dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan.
Assessnment menurut Petty (2004) mengukur keluasan dan kedalam belajar, sedangkan evaluasi yang berarti mengungkapkan dan pengukuran hasil belajar yang pada dasarnya merupakan proses penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Evaluasi memiliki arti lebih luas daripada penilaian. Dengan kata lain di dalam evaluasi tercakup di dalamnya penilaian. Pendidik harus mengetahui sejauhmana peserta didik telah menyerap dan menguasai materi yang telah diajarkan. Sebaliknya, peserta didik juga membutuhkan informasi tentang hasil pekerjaannya. Hal ini hanya dapat diketahui jika seorang pendidik (guru) melakukan evaluasi.
Sebelum melakukan evaluasi, maka guru harus melakukan penilaian yang didahului denganpengukuran.Pengukuran hasil belajar adalah cara pengumpulan informasi yang hasilnya dapat dinyatakan dalam bentuk angka yang disebut skor. Penilaian hasil belajar adalah cara menginterpretasikan skor yang diperoleh dari pengukuran dengan mengubahnya menjadi nilai dengan prosedur tertentu dan menggunakannya untuk mengambil keputusan. Evaluasi hasil belajar merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis.

2.3 Pengertian  Evaluasi Prestasi Belajar
Istilah Evaluasi atau penilaian adalah sebagai terjemahan dari istilah asing “Evaluation”. Dan sebagai panduan, menurut Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) dikemukakan bahwa: Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada-tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik.
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Kata lain yang sepadan dengan kata evaluasi dan sering digunakan untuk menggantikan kata evaluasi adalah tes, ujian dan ulangan Aktivitas belajar perlu diadakan evaluasi. Hal ini penting karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak.
Adapun aspek-aspek kepribadian yang harus diperhatikan merupakan objek di dalam pelaksanaan evaluasi tersebut, menurut Nasrun Harahap, adalah sebagai berikut:
2.4   Tujuan dan Fungsi Evaluasi Prestasi Belajar
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan khusus. L. Pasaribu dan Simanjuntak, menegaskan bahwa:
1.      Tujuan Umum dari evaluasi adalah sebagai berikut:
-    Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
-    Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
-    Menilai metode belajar yang dipergunakan
2.      Tujuan Khusus dari evaluasi adalah sebagai berikut:
-    Merangsang kegiatan siswa
-    Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.
-    Memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar atau metode belajar.
-    Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.
-    Memperoleh bahwa laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan oreang tua dan lembaga pendidikan.


Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, evaluasi mempunyai fungsi yang amat penting, yaitu :
-    Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan (dan karakteristik lainnya) yang dimiliki oleh murid.
-    Untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar-mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
-    Untuk memberikan angka yang tepet tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid.

2.4 Evaluasi Prestasi Kognitif, Afektif, Dan Psikomotor
1.           Evaluasi Prestasi Kognitif
Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah siswa-siswa di sekolah, tes lisan dan perbuatan saat ini semakin jarang digunakan. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face to face(berhadapan langsung). Cara ini, konon dapat mendorong penguji untuk bersikap kurang fair terhadap si teruji/peserta didik tertentu.
Dampak negatif yang terkadang muncul dalam tes yang face to face itu, ialah sikap dan perlakuan penguji yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.
2.      Evaluasi Prestasi Afektif
Dalam merencanakan penyusunan instrument tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi sebaiknya mendapat perhatian khusus. Karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.
Salah satu bentuk tes ranah rasa yang populer ialah likert scale yang tujuannya untuk mengidentifikasi kecenderungan atau sikap orang. Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi skor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai sangat “tidak”.


Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecenderungan afektif siswa yang representatif item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi dengan label/identitas sikap yang meliputi:
a.       Doktrin, yaitu pendirian
b.      Komitmen, ikrar untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan
c.       Penghayatan, pengalaman batin
d.      Wawasan, pandangan atau cara memandang sesuatu
3.   Evaluasi Prestasi Psikomotor
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi. Dalam hal ini observasi dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain dengan pengamatan langsung. Namun, observasi harus dibedakan dengan eksperimen, karena eksperimen pada umumnya dipandang sebagai salah satu cara observasi.

2.5 Prestasi Menurut Pandangan Islam
Dalam diri manusia secara fitrah telah tercipta sebuah “file prestasi”. Dalam arti setiap manusia yang hidup dalam kondisi normal dipastikan mendambakan prestasi, sekecil apapun hingga sebesar apapun. Mereka menginginkan dirinya menjadi manusia sukses dan beruntung terhadap apa yang diinginkan. Naluri berprestasi dalam ilmu psikologi Islam termasuk dalam kategori “gharizatul baqak” atau dalam bahasa psikologi konvensional masuk dalam ranah “power motive” yang di dalamnya terdapat “achievement motive”. Naluri ini terus menerus dicari, digenggam, dipertahankan dan terus dikejar sampai kapanpun dan dimanapun.
Konsepsi Islam adalah keseimbangan antara prestasi dunia dan akherat. Bahkan prestasi dunia adalah untuk prestasi di akherat. Dalam konteks ini bisa difahami konsepsi Al Quran surat 28 Al Qashash ayat 77 yang artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Demikian pula terdapat hadits yang berbunyi : I’mal lidunyaka ka-annaka ta’isyu abadan, wa’mal liakhiratika ka-annaka tamutu ghadan (carilah olehmu kehidupan dunia seakan-akan kalian hidup selamanya, dan carilah olehmu kehidupan untuk negeri akherat yang seakan-akan kalian akan mati besok hari”.
 Jadi, semakin jelas bahwa prestasi dalam pandangan psikologi Islam adalah jika pencapaian kesuksesan tersebut diniatkan, diproses dan didapatkan sesuai aqidah Islam tanpa terpisahkan antara dunia dan akherat. Sebab dalam konsepsi Islam juga bahwa setiap amal perbuatan mesti dicatat dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Hal ini dapat dibuka dalam Al Quran surat 99 Al Zalzalah ayat 7 dan 8: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. Oleh karena itu, dalam konsepsi psikologi Islam bahwa yang disebut prestasi hanya terjadi jika amalan dan keberhasilan seseorang yang mendasarkan aqidah dan syariah Islam.
 Selanjutnya, sebuah prestasi yang hakiki dalam Islam tidak hanya pada puncak pencapaian (the end process of pipe), tetapi juga sejak dari niat karena Allah, dan selama proses yang diproses dengan ruh syariah dan aqidah Islam, maka ketika itu pula sudah bernilai prestasi—sebab ketika itu pula Allah Swt memberikan pahala atas segala usahanya, sekecil apapun.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.
Evaluasi memiliki arti lebih luas daripada penilaian. Dengan kata lain di dalam evaluasi tercakup di dalamnya penilaian. Siapapun yang melakukan tugas mengajar, perlu mengetahui akibat dari pekerjaan-nya. Evaluasi prestasi dibagi menjadi tiga macam yaitu  evaluasi prestasi kognitif, afektif, dan psikomotor. Prestasi dalam pandangan psikologi Islam adalah jika pencapaian kesuksesan tersebut diniatkan, diproses dan didapatkan sesuai aqidah Islam tanpa terpisahkan antara dunia dan akherat. Sebab dalam konsepsi Islam juga bahwa setiap amal perbuatan mesti dicatat dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban.


Daftar Pustaka

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo
Wayan Nurkancana dan Sunartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Mulyadi. 2010. Evaluasi Pendidikan. Malang: Maliki Press.



psikologi pendidikan tentang anak berkebutuhan khusus

Anak Berkebutuhan Khusus

Sebelum kita memulai pelajaran tentang anak berkebutuhan khusus, lebih baik kita isi soal-soal berikut dengan jawaban yang menarik sesuai yang kamu rasakan, lihat, dan perhatikan, berikut adalah soal-soal dan contoh jawaban saya :
1.      (+) kata apa saja yang menggambarkannu hari ini ?
(­­-) lapar, sedih,bimbang
2.      (+) perasaan apa saj ayang tiap hari kamu rasakan ?
(-) pusing,senang
3.      (+) andaikata ikan dapat hidup di darat apa yang akan terjadi ?
(-) kucing gendut, bau amis
4.      (+) andaikata singa bukan hewan karnivora?
(-) saya pelihara, tukang pecel laku keras
5.      (+)bagaimana memperbaiki sepatu yang rusak ?
(-) di lem, di jahit dengan penuh cinta agar tidak rusak lagi
6.      (+) melanjutkan cerita !
Wanda keluar kelas, lalu wanda...
(-) bertemu dengan viqi yang sedang berdiri diteras depan kelas. Wanda dengan semangan ingin menghampiri viqi namun tiba-tiba datanglah peni yang saat itu adalah pacar dari viqi. Akhirnya wanda berjalan melewati mereka dengan bercucuran air mata.
7.      (+) apa fungsi kerudung selain untuk penutup kepala ?
(-) untuk menggendong anak, jubah buat terbang
8.      (+) beri judul gambar tersebut !
(-) jangan pernah membeda-bedakan dan setiap anak mempunyai hak yang sama.


A. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak berkebutuhan khusus(abk) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “anak luar biasa (alb)” yang menandakan adanya kelainan khusus.anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Di negara indonesia, abk yang mempunyai gangguan perkembangan dan telah diberikan layanan antara lain sebagai berikut :
1.        Anak yang mengalami tuna netra.
2.        Anak yang mengalami tuna rungu wicara hambatan pendengaran.
3.        Anak dengan tuna grahita (hambatan mental, emosi, sosial, dan fisik).
4.        Anak dengan tuna daksa (kelainan pada tulang).
5.        Anak tunalaras (kelainan membuat keonaran secara berlebihan).
6.        Anak dengan autis (kelainan berbicara dan intelektual).
7.        Anak dengan hiperaktif(kerusakan otak, kelainan emosi).
8.        Anak dengan hendaya belajar (mempunyai prestasi rendah).
9.        Anak dengan tunaganda (kelainan hambatan perkembangan neurologis).
Siswa-siswa yang mempunyai ganguan perkembangan tersebut, memerlukan suatu metode pembelajaran yang sifatnya khusus. Suatu pola yang bervariasi, diyakini dapat meningkatkan potensi peserta didik.

.     Model Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus
            Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus berdasarkan pada Kurikkulum Berbasis Kompetensi adalah pengembangan lingkungan belajar secara terpadu. Pengembangan lingkungan secara terpadu dimaksudkan dengan lingkungan yang mempunyai prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus.
            Prinsip-prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks, keterahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualis, menemukan, dan prinsip pemecahan masalah. Sedangkan prinsip-prinsip khusus disesuaikan dengan karakteristik khusus dari setiap penyandang kelainan. Misalnya, untuk peserta didik dengan hambatan visual, diperlukan prinsip-prinsip kekongretan, pengalaman yang menyatu, dan belajar sambil melakukan.
1.      Rasionalitas
Layanan pendidikan dan pembelajaran di Indonesia. Khususnya untuk sekolah luar biasa atau sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif, seyogianaya sejalan dan tidak terlepas dari prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus. Kebijakan dan praktek pendidikan berkebutuhan khusus dalam mengaplikasikan gerakan, sejalan dengan prinsip pendidikan untuk semua atau education for all sebagai hasil konferensi dunia di Salamanca pada tanggal 7 hingga 10 Juni 1994.
2.      Visi dan Misi
      Visi pembelajaran berdasarkan KBK, adalah membantu setiap peserta didik berkebutuhan khusus untuk dapat memiliki sifat dan wawasan serta akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan mengjunjung hak azasi manusia, saling pengertian dan berwawasan global (Mulyana, E. 2004:19).
      Misi pembelajaran berdasarkan KBK terhadap ABK adalah suatu upaya guru dalam memberikan layanan pendidikan agar setiap peserta didik menjadi individu yang mandiri, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, terampil, dan mampu berperan sosial (Mulyana, E. 2004:20).
3.      Tujuan Pembelajaran Berdasarkan KBK
Berdasarkan visi dan misi pembelajaran berdasarkan KBK, dapat ditentukan tujuan pembelajaran, antara lain sebagai berikut.
a.       Agar dapat menghasilkan individu yang mampu melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan orang lain melalui kemampuan dirinya dalam menggunakan persepsi, pendengaran, penglihatan, taktil, kinestetik, fine motor, dan gross motor.
b.      Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan diri dan kematangan sosial.
c.       Menghasilkan individu yang mampu bertanggung jawab secara pribadi dan sosial.
d.      Agar dapat menghasilkan individu yang mempunyai kematangan untuk melakukan penyesuaian diri dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial.
4.      Isi Program Pembelajaran
Isi program pembelajaran ABK dengan memanfaatkan permainan terapeutik dikelompokan sebagai berikut.
a.       Tingkat perkembangan kemampuan fungsional dari setiap siswa tunagrahita, meliputi sensori motor, kreativitas, interaksi sosial, dan bahasa.
b.      Jenis-jenis permainan terapeutik meliputi permainan eksplorasi, dan permainan memecahkan masalah melalui permainan keterampilan, permainan sosialisasi, permainan imajinatif, dan permainan memecahkan masalah melalui puzzle.
c.       Sasaran perkembangan perilaku adaptif atau target behavior dapat dicapai melalui sasaran berupa pengembangan keterampilan psikomotor dari setiap siswa dalam melakukan kegiatan permainan tertentu sebagai bentuk terapeutik. Selanjutnya target behavior diarahkan agar mampu mencapai tingkat perkembangan kognitif.
5.      Pendukung Sistem Model Pembelajaran dengan KBK
Komponen pendukung sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program pembelajaran. Kegiatan-kegiatannya diarahkan pada hal-hal berikut.
a.       Pengembangan dan manajemen program.
b.      Pengembangan staf pengajar.
c.       Pemanfaatan sumber daya msyarakat dan pengembangan atau penataan terhadap kebijakan dan petunjuk teknis.
6.      Komponen Dasar Model Pembelajaran
Isi layanan pembelajaran dapat dikelomokan ke dalam bagian-bagian sebagai berikut.
a.       Masukan, terdiri atas: (1) Masukan Mentah, berupa: elicitors, behaviors, reinforcers. (2) Masukan Instrumen, berupa: program, guru kelas, tahapan, dan sarana. (3) Masukan Lingkungan, berupa: norma, lingkungan, tujuan, lingkungan, dan tuntutan.
b.      Proses, terdiri atas program pembelajaran individual, pelaksanaan intervensi, refleksi hasil pembelajaran, dan KBK.
c.       Keluaran atau outcome, berupa perubahan kompetensi setiap peserta didik Anak Berkebutuhan Khusus.
Pandangan Islam Terhadap Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam penggalan surat di bawah ini mengandung makna kesetaraan untuk bergabung bersama dengan mereka yang berkebutuhan khusus seperti buta, pincang, bisu, tuli, atau bahkan sakit. Mereka berhak untuk makan bersama, berkumpul bersama layaknya masyarakat pada umumnya.

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka)di rumah kamu sendiri atau di rumah-rumah bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudarmu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan,  di rumah sudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saura bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kaum makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini)hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya”. (Q.S. An-Nuur ayat 61).

            Bahkan asbabunnuzul dari QS. An-Nuur ayat 61 ini adalah: pada masa itu masyarakat Arab merasa jijik untuk makan bersama-sama dengan merekayang berkebutuhan khusus, seperti pincang, buta, tuli, dan lainnya. Hal ini disebabkan cara makan mereka yang berbeda. Selain itu masyarakat Arab pada masa itu merasa kasihan kepada merka yang berkebutuhan khusus tersebut karena mereka tidak mampu menyediakan makanan untuk diri mereka sendiri. Akan tetapi Islam menghapus diskriminasi tersebut melalui surat ini. Masyarakat tidak seharusnya membeda-bedakan atau bersikap diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus.
Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru menurut Kauffman dan Hallahan, antara lain sebagai berikut :
a)      Anak Tuna Grahita
Anak tunagrahita secara umum mempunyai tingkat kemampuan intelektual di bawah rerata. Anak tunagrahita memiliki karakteristik anak dengan hendaya perkembangan (tunagrahita), meliputi hal-hal sebagai berikut :
a)      Mempunyai dasar secara fisiologis, sosial dan emosional sama seperti anak-anak yang tidak menyandang tunagrahita.
b)      Selalu bersifat eksternal locus of control sehingga mudah sekali melakukan kesalahan.
c)      Suka meniru perilaku yang benar dari orang lain dalam upaya mengatasi kesalahan-kesalahan yang mungkin ia lakukan.
d)     Mempunyai perilaku yang tidak dapat mengatur diri sendiri.
e)      Mempunyai permasalahan berkaitan dengan perilaku sosial.
f)       Mempunyai masalah berkaitan dengan karakteristik belajar.
g)      Mempunyai masalah dalam bahasa dan pengucapan.
h)      Mempunyai masalah dalam kesehatan fisik.
i)        Kurang mampu untuk berkomunikasi.
j)        Mempunyai kelainan pada sensori dan gerak.
b)      Anak dengan kesulitan belajar
Anak yang berprestasi rendah umumnya kita temui di sekolah, karena mereka pada umumnya tidak mampu menguasai bidang studi tetentu yang diprogramkan oleh guru berdasarkan kurikulum yang berlaku. Anak dengan kesulitan belajar mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a)      Kelainan yang terjadi berkaitan dengan faktor psikologis sehingga mengganggu kelancaran berbahasa, saat berbicara, dan menulis.
b)      Pada umumnya mereka tidak mampu untuk menjadi pendengar yang baik, untuk berfikir, untuk berbicara, membaca dan menulis, mengeja huruf, bahkan perhitungan yang bersifat matematika.
c)      Kemampuan mereka yang rendah dapat dicirikan melalui hasil tes IQ atau tes prestasi belajar khususnya kemampuan-kemampuan berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di sekolah.
d)     Kondisi kelainan dapat disebabkan oleh perceptual handicapes dan sebaginya.
e)      Mereka tidak tergolong ke dalam penyandang tuna grahita, tuna laras, atau mereka yang mendapatkan hambatan dari faktor lingkungan, budaya atau faktor ekonomi.
f)       Mempunyai karakteristik khusus berupa kesulitan di bidang akademik, masalah-masalah kognitif, dan masalah-masalah emosi sosial.
c)      Peserta Didik Hiperaktif
Hiperaktif bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala. Ciri yang paling mudah dikenal bagi anak hiperaktif adalah anak akan selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, selalu menganggu teman-teman di kelasnya, suka berpindah-pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, mempunyai kesulitan berkonsentrasi,dan mempunyai masalah belajar hampir di seluruh bidang studi.
d)     Anak Tunalaras
Anak tuna laras biasa disebut juga dengan anak dengan hendaya perilaku menyimpang. Bower menyatakan bahwa anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut ini :
a)         Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, kesehatan.
b)        Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
c)         Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
d)        Secara umum, mereka selalu dalma keadaan depresi.
e)         Bertendesi ke arah fisik seperti merasa sakit, atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.
e)      Anak tunarungu wicara
Yang dimaksud tuna rungu ini adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar sebagian atau seluruhnya, diakibatkan tidak berfungsinya sebagian atau seluruh indera pendengaran. Ciri-cirinya kurang perhatian saat guru menerangkan, mempunyai kesulitan untuk mengikuti petunjuk secara lisan.


f)    Anak Tunanetra
Bagi yang mengalami hambatan pengihatan atau tunanetra jelas ia harus mempelajari lingkungan sekitarnya dengan menyentuh dan merasakannya. Perilaku untuk mengetahui objek dengan cara mendengarkan suara dari objek yang akan diraih adalah perilakunya dalam perkembangan motorik.
g)      Anak autis
Anak autis merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Kelainan yang terjadi pada anak autis antara lain, kelainan berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, perilaku yang ganjil, interaksi sosial, anak autis kurang suka bergaul dan sangat terisolasi hidupnya.
h)      Anak Tunadaksa
Anak tunadaksa memiliki kecacatan fisik sehingga mengalami gangguan pada koordinasi gerak, persepsi, dan kognisi disamping adanya kerusakan saraf tertentu.ciri utamanya ialah, geraknya kurang kuat, berjalan dengan langkah yang panjang dan mudah jatuh.
i)        Anak Tunaganda
Tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neorologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan-pribadi di masyarakat.
j)        Anak berabakat dan keberbakatan
Peserta didik berbakat mempunyai empat kategori :
a)      Mempunyai kemampuan intelektual atau mempunyai intelegensi yang menyuluruh.
b)      Kemampuan intelektual khusus.
c)      Berfikir kreatif atau berfikir murni menyeluruh.
d)     Mempunyai bakat kreatif khusus.

Sumber :
 Delphie, Bandi. Pembelajaran anak berkebutuhan khusus. 2006. Bandung : refika aditama.
Delphie, Bandi. Pembelajaran Anak Tunagrahita. 2006. Bandung : Refika Aditama






Minggu, 24 Mei 2015

psikologi tentang kreativitas

KREATIVITAS


Jawablah pertanyaan pertanyaan berikut dengan jawaban yang kreatif !
  •          Kata apa saja yang menggambarkanmu hari ini ?
  •          Dapatkah difikirkan perasaan apa saja yang dihayati setiap hari ?
  •          Andaikata di jakarta itu gurun, apa saja akibatnya ?
  •          Andaikata semua orang dilarang makan apa yang akan terjadi ?
  •          Andaikata manusia dapat tinggal di laut apa yang akan terjadi ?
  •          Bagaimana memperbaiki ruang kelas agar menjadi nyaman ?
  •          Selain untuk alas kaki apa fungsi sepatu ?
  •          Manfaat kuliah di jurusanmu apa saja ?
  •          Apa manfaat lain selain jadi guru ?
  •          Teruskan cerita berikut, minimal 2 paragraf !

“Si Kido”
Pada hari senin ayah mengantar kido ke sekolah dasar. Hari ini adalah hari pertama kido bersekolah dan ia merasa sedikit khawatir. “ayah aku tidak ingin pergi sekolah. Aku tidak kenal siapa pun dan aku akan merindukan kalian.” Kata kido, lalu ayahnya menjawab “ayah yakin kamu akan memiliki teman baru disana. Semua anak pasti merasakan hal yang sama sepertimu.”
Contoh jawaban saya waktu mengikuti pelajaran psikologi pendidikan :
  •          Sebel, bosan, sedih, rindu
  •          Tentu dapat, senang,sedih,bingung
  •          Tambah panas, masyarakat akan flu,banyak kotoran kucing
  •          kurus,warung makan akan gulung tikar.
  •          bikini laku keras dipasaran, kulitnya licin
  •          Diberi kursi yang empuk seperti sofa, ada kulkasnya, ada ac-nya, ada televisinya,tempat tidur.
  •          Untuk tempat ikan, tempat pensil, perahu mainan kalau banjir
  •          Berhubung saya jurusan sastra indonesia, jadi manfaat kuliah di sastra itu dapat mengetahui karya-karya sastra anak bangsa, dapat mengetahui sejarah dan perkembangan sastra indonesia dan menjadi sosok yang romantis.
  •          Jadi penulis novel, jadi pembawa berita
  •          Lanjutan cerita diatas !

 Ayah mengantarkan sido sampai depan gerbang sekolah. Sido pun memasuki kelas dengan rasa ragu namun tanpa diduga tiba-tiba teman sekelasnya berlari menghampiri sido. Sido sangat kaget dan terheran-heran karena teman-temannya menghampiri juga membawa hp dan kertas. Salah satu temannya langsung mengajukan pertanyaan “ morgan smash kan?”, sido pun heran dan menjawab “ bukan” .

Dengan berusahameyakinkan teman-temannya kalau dia bukanlah morgan smash namun teman-temannya masih saja menganggap sido adalah morgan yang jelas sangat ganteng dari pada sido. Akhirnya sido mencoba menjelaskan dengan perlahan dan teman-temannya mengerti namun tetap berteman dengan sido meski sido bukanlah morgan.



Menurut para ahli :


Jadi, pengertian kreativitas dalam cangkupan yang luas adalah kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinil, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran dan tepat guna.

perkembangan kreativitas 
KARAKTERISTIK KREATIVITAS


Upaya membantu mengembangkan kreativitas dan implikasinya dalam pendidikan
1.      Torrance
Menanamkan relasi bantuan dengan istilah “creative relationship” yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
·         Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak
·         Pebimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasannya tanpa mengalami hambatan
·         Pebimbing lebih menekan pada proses daripada hasil hingga pebimbing dituntut untuk mampu memandang permasalahan anak
·         Pebimbing tidak memaksakan pendapat,pandangan atau nilai nilai tertentu pada anak.
2.      Dedi supriadi
Mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif,yaitu:
·         Menciptakan rasa amankepada anak untuk mengekpresikan kreativitasnya
·         Mengakui dan menghargai gagasan anak
·         Menjadi pendorong bagi anak untuk mengkombinasikan dan mewujudkan gagasan-gagasannya
·         Memberikan peluang  untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya
Ciri-ciri Individu Kreatif
Sund (1975) mengatakan bahwa individu kreatif memiliki ciri-ciri berikut:
1.      Hasrat keingintahuan yang cukup besar
2.      Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru
3.      Panjang akal
4.      Keinginan untuk menemukan dan meneliti
5.      Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit
6.      Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan
7.      Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas
8.      Berfikir fleksibel
9.      Menanggapi pertanyaan yang diajurkan serta cenderung memberi jawaban lebih banyak
10.  Kemampuan membuat analisis dan sintesis
11.  Memiliki semangat bertanya serta meneliti
12.  Memiliki daya abstraksi yang cukup baik
13.  Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas  

Cara menjadi Pemikir Kreatif antara lain :
1.        Mencari jalan-jalan termudah bagi kita sendiri
2.        Mengubah kekurangan menjadi kelebihan
3.        Menggali cara lama sebagai ide baru
4.        Idealisasi
5.        Sengaja menciptakan situasi problematis
6.        Provokasi dari Edward de Bono
7.        Taraf-taraf ide kreatif.
8.        Bentuk model dan bentuk mainan
9.        Mengaitkan pemikiran kreatif dengan indera pendengaran
10.    Komputer dan kreativitas
11.  Lebih kreatif dengan menekankan makna.

. Pandangan Islam tentang Kreativitas
      Agama Islam sudah sangat jelas memberikan ruang seluas-luasnya kepada umatnya untuk selalu berpikir dan menemukan ide-ide kreatif sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an. 

“Demikianlah,  Allah menerangkan kepadamu ayat-ayatNya agar kamu berpikir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 219)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa sebenarnya Islam pun dalam hal kekreativitasan memberikan kelapangan pada umatnya untuk berkreasi dengan akal pikirannya dan dengan hati nuraninya (qalbunya) dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup di dalamnya.
   Jika masalah kreativitas berasal dari bakat, maka tidak sepebuhnya benar karena kreativitas seseorang bisa diasah dan dilatih. Pada dasarnya setiap orang mempunyai potensi kreativitas lebih banyak daripada yang biasa digunakannya. Kesanggupan untuk mencipta atau mencari masalah dengan jitu tidak terbatas pada bakat-bakat yang luar biasa saja. Melainkan dimiliki oleh setiap orang yang bakatnya mungkin hanya            rata-rata.
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’du: 11)
Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa dalam ayat ini Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali terdapat perubahan dalam diri mereka, atau orang lain yang mengamati mereka, atau sebagian kaum dari mereka.

Sumber / Daftar Pustaka
Chandra, Julius. 1994. Kreativitas, Yogyakarta : kanisius.
Shaleh, Abdul Rahman. 2008. Psikologi, Jakarta : kencana.
Slavin, Robert E. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: PT Indeks. 2011.